TANJUNG SELOR – Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Utara bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) menggelar Benuanta Economic Forum (BEF) 2026 sebagai forum strategis untuk memperkuat sinergi dalam mendorong transformasi ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Forum bertema “Menavigasi Transformasi Ekonomi Kalimantan Utara Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Industri Pertambangan” itu mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, perbankan dan instansi vertikal untuk membahas arah pembangunan ekonomi Provinsi Kaltara di tengah perlambatan di sektor pertambangan.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltara, Agus Taufik mengatakan, perekonomian Kaltara masih tumbuh 5,23 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026.
“Namun, ketergantungan terhadap sektor pertambangan batu bara membuat daerah menghadapi tantangan akibat melemahnya permintaan global dan penyesuaian produksi,” kata Agus
Agus bilang, transformasi ekonomi di Kaltara perlu dipercepat melalui pengembangan sumber pertumbuhan baru, di antaranya percepatan pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Mangkupadi, pengembangan energi hijau melalui PLTA Mentarang Induk, penguatan rantai pasok lokal dan pemberdayaan UMKM melalui digitalisasi, peningkatan kapasitas usaha serta akses pembiayaan.
Pada forum yang digelar di Tanjung Selor itu, BI dan TPID Kaltara juga meluncurkan kembali Website Neraca Pangan Siap Sigapku 2.0.
“Platform ini memungkinkan pemantauan kondisi pangan secara real time sekaligus menyediakan sistem peringatan dini terhadap potensi gangguan pasokan maupun lonjakan harga untuk mendukung pengendalian inflasi daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Kaltara, Ingkong Ala mengapresiasi penyelenggaraan BEF 2026 dan kontribusi Bank Indonesia dalam penyusunan Laporan Perekonomian Provinsi sebagai referensi kebijakan pembangunan daerah.
Ia menegaskan komitmen Pemprov Kaltara untuk memperkuat pembangunan infrastruktur dan konektivitas, mempercepat pengembangan KIHI Mangkupadi, mendorong UMKM sserta memperluas kerja sama regional dan internasional guna menarik investasi produktif.
BEF 2026 turut menghadirkan Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk David Sumual, Kepala Bapperida Provinsi Kalimantan Utara Bertius, dan Akademisi Universitas Borneo Tarakan Dr. Margiyono. Ketiganya memaparkan prospek ekonomi Kalimantan Utara, arah kebijakan transformasi ekonomi daerah, serta pentingnya hilirisasi, investasi, dan pengembangan industri berkelanjutan untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang bernilai tambah.(*)












