TANJUNG SELOR — Seleksi calon anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Kalimantan Utara memasuki tahap krusial.
Sebanyak 29 peserta mengikuti tes psikologi yang digelar di Laboratorium CAT Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kaltara, bekerja sama dengan tim ahli dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Jumat (24/10/2025).
Ketua Panitia Seleksi (Pansel) KPID Kaltara, Jufri mengatakan, tes ini menjadi tahapan penting dalam menilai kepribadian, integritas, dan kemampuan kolaborasi para calon komisioner penyiaran daerah.
“Dari 30 peserta yang lolos tahap Computer Assisted Test (CAT), satu orang tidak hadir sehingga hanya 29 peserta yang melanjutkan ke tahap psikologi,” kata Jufri.
“Pesan kami sederhana, kerjakan soal dengan fokus dan tenang. Tes ini tidak hanya mengukur kecerdasan, tetapi juga kemampuan berpikir jernih dan etika publik,” tambah dia.
Jufri bilang, hasil tes psikologi diharapkan mampu menggambarkan kepribadian peserta secara menyeluruh.
“Kami ingin memastikan bahwa anggota KPID Kaltara nanti bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki sikap yang matang dan kemampuan bekerja dalam tekanan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Teknis dari Laboratorium Psikologi Fakultas Kedokteran Unhas, Ikhlas Nanang Avandi, menjelaskan bahwa tes ini dilaksanakan secara independen dengan prinsip blind review. Artinya, tim penguji tidak mengetahui identitas peserta selama proses penilaian berlangsung.
“Tes kami rancang dua hari karena komponennya kompleks: integritas, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, hingga kolaborasi. Kami tidak sekadar menilai jawaban, tapi juga perilaku dan sikap selama proses,” jelas Ikhlas.
Ia menambahkan, pengolahan hasil tes membutuhkan waktu karena setiap hasil akan dianalisis mendalam di laboratorium psikologi. “Kami menilai banyak aspek, termasuk bagaimana peserta menyelesaikan masalah, merespons tekanan, dan menghormati pendapat orang lain,” ujarnya.
Pada hari kedua, peserta akan mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dengan tema seputar dinamika dunia penyiaran. Dalam forum itu, peserta diuji dalam memecahkan persoalan dan membangun argumentasi publik secara sehat.
“Dari FGD itulah akan terlihat siapa yang benar-benar memiliki sikap pemimpin, menghargai perbedaan, dan mampu bekerja sebagai tim,” kata Ikhlas.
Ia menegaskan, tes ini bukan sekadar mencari orang yang pintar, melainkan figur yang beretika dan berjiwa publik.
“Menjadi anggota KPID berarti menjadi penjaga nilai di ruang siar publik. Integritas dan kejujuran adalah syarat utama,” tutupnya.(*)










