TANJUNG SELOR – Denting bola tenis meja yang saling berbalas di Desa Jelarai Tengah, Kecamatan Tanjung Selor, bukan sekadar penanda sebuah pertandingan.
Lebih dari itu, ini menjadi simbol kebersamaan warga dalam turnamen tenis meja yang digagas Wakil Ketua DPRD Bulungan, Tasa Gung bersama Akuang pengusaha muda yang dikenal di Bulungan.
Turnamen yang digelar selama dua hari di kediaman Tasa Gung itu melibatkan warga lintas usia itu disambut antusias masyarakat. Anak-anak, pemuda, hingga orang tua tampak larut dalam suasana penuh keakraban, menjadikan olahraga sebagai ruang silaturahmi dan perekat sosial desa.
Di Jelarai Tengah, sebuah meja pingpong kini menjadi saksi bahwa persaudaraan dan kepedulian sosial adalah fondasi penting dalam membangun desa
Wakil Ketua DPRD Bulungan, Tasa Gung, menilai kegiatan olahraga sederhana seperti tenis meja memiliki nilai strategis dalam membangun karakter dan kekompakan masyarakat.
“Olahraga ini kelihatannya sederhana, tapi di sinilah kita belajar sportivitas, kebersamaan, dan saling menghargai. Desa akan kuat kalau warganya sering berkumpul dalam kegiatan positif seperti ini,” kata Tasa Gung, Sabtu (10/1/2026)
Ia juga mengapresiasi peran Akuang dan panitia lokal yang berinisiatif menghidupkan aktivitas warga secara swadaya.
“Kalau warga sudah mau bergerak bersama, tugas pemerintah tinggal mendorong dan menguatkan. Inisiatif seperti ini patut dicontoh,” tambahnya.
Sementara itu, Akuang, yang dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses di Bulungan, menegaskan bahwa keterlibatannya dalam kegiatan sosial dan olahraga di desa merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk ikut membangun lingkungan tempat ia tinggal dan berusaha.
“Usaha bisa besar karena dukungan lingkungan dan masyarakat. Jadi sudah sepatutnya kami yang diberi rezeki lebih ikut kembali ke masyarakat, salah satunya lewat kegiatan olahraga yang menyatukan,” kata Akuang.
Menurutnya, turnamen tenis meja menjadi ruang yang efektif untuk menanamkan nilai disiplin, sportivitas, dan kebersamaan, terutama bagi generasi muda Jelarai Tengah.
“Anak-anak muda perlu ruang positif. Kalau mereka sibuk berolahraga dan berprestasi, kita semua yang diuntungkan. Desa jadi hidup, suasana jadi sehat,” ujarnya.
Akuang berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan rutin yang melibatkan lebih banyak warga dan cabang olahraga lainnya.
“Turnamen tenis meja Jelarai Tengah ini menjadi gambaran bahwa pembangunan sosial tidak selalu dimulai dari proyek besar. Dengan kepedulian, gotong royong, dan kemauan untuk berbagi, ruang kebersamaan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana namun bermakna,” tutupnya.(*)







