BULUNGAN – Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Marthin Billa, mengingatkan masyarakat Desa Jelarai di Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, tidak bersikap pasif dalam menghadapi geliat pembangunan yang terus bergerak di sekitar ibu kota Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Tanjung Selor.
“Posisi desa Jelarai ini sangat dekat dengan pusat pemerintahan provinsi dan kabupaten Bulungan, yang menjadikannya wilayah strategis dan penopang utama ibu kota. Karena itu, pembangunan infrastruktur yang terjadi harus dibaca sebagai peluang, bukan sekadar perubahan fisik semata,” kata Marthin Billa yang juga menjabat Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) asal Kaltara, Jumat (9/1/2026).
“Perkembangannya sangat signifikan. Karena dekat ibu kota, wajar jika kawasan ini dikembangkan. Dampaknya pasti dirasakan masyarakat Jelarai,” sambung dia.
Ia menegaskan, manfaat pembangunan tidak akan optimal jika masyarakat hanya menunggu. Tanpa keterlibatan aktif warga, peluang ekonomi dan sosial justru bisa diambil pihak luar.
“Yang penting masyarakat jangan diam. Jangan menunggu. Kalau kita tidak aktif, orang lain yang akan masuk dan menguasai peluang itu,” tegasnya.
Marthin juga mendorong warga Jelarai yang mayoritas dihuni Suku Dayak untuk berani berinovasi, mengembangkan kegiatan ekonomi keluarga, serta membuka diri terhadap gagasan dan praktik baik dari luar daerah.
Ia juga berharap Desa Jelarai dapat berkembang sebagai desa yang aktif, adaptif, dan mampu mengambil peran strategis dalam ekosistem pembangunan daerah.
“Sikap terbuka menjadi kunci agar desa ini mampu tumbuh seiring perkembangan ibu kota, tidak usah malu belajar dari orang lain. Kalau itu membuat kita lebih maju, lakukan. Jangan diam di tempat,” tutupnya.(*)













