Pekan lalu, saya mendapat kesempatan mengikuti perjalanan Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Utara (Kaltara), Ingkong Ala ke kawasan perbatasan Indonesia–Sarawak, Malaysia, tepatnya di wilayah Apau Kayan, Kabupaten Malinau.
Namun, akses menuju kawasan perbatasan itu bukan perkara sederhana apalagi sebelum benar-benar dimulai masih ada saja hambatannya.
Seperti dari Bandara Tanjung Harapan di Tanjung Selor di ibukota Provinsi Kaltara menuju Bandara Long Ampung di Kecamatan Kayan Selatan, penerbangannya hanya tersedia satu kali dalam sepekan, dengan kapasitas yang sangat terbatas.
Jika terlewat, maka pilihannya hanya satu yakni menunggu pekan berikutnya itu pun belum tentu bisa berangkat. Dalam kondisi tertentu, banyaknya calon penumpang membuat kursi harus ditentukan melalui undian menggunakan KTP.
Apau Kayan sebenarnya bukan tanpa akses darat, seperti dari Tanjung Selor. Namun, waktu tempuhnya bukan hitungan jam bahkan bukan pula hari melainkan berminggu-minggu, itu pun jika cuaca bersahabat sepanjang perjalanan.
Rutenya berliku, melintasi wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) seperti Kabupaten Berau, Kutai Timur (Kutim) Bontang, Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Barat (Kubar) hingga Mahakam Ulu (Mahulu). Perjalanan panjang itu juga dihadapkan pada kondisi jalan tanah, medan berlumpur, hingga sungai-sungai yang harus diseberangi.
Rute ini bukan hanya jauh, tapi juga berat dan tidak semua orang mampu menjalaninya apalagi dalam kondisi mendesak.
Situasi itulah yang membuat pesawat perintis menjadi satu-satunya pilihan paling realistis.
Saya pun tak punya banyak opsi, sehari sebelum rombongan Wagub berangkat, saya memutuskan lebih dulu menuju Malinau melalui jalur darat dengan waktu tempuh sekira tiga jam dari Tanjung Selor.
Langkah itu menjadi satu-satunya cara agar saya tetap bisa mengikuti perjalanan, meski dibayangi ketidakpastian.
Dari Malinau peluang mendapatkan kursi menuju Long Ampung sedikit lebih terbuka. Dalam sepekan, tersedia empat kali penerbangan bersubsidi dari Bandara Robert Atty (RA) Bessing menuju pedalaman Apau Kayan. Penerbangan ini dilayani maskapai perintis seperti Susi Air dan Smart Air, melalui skema subsidi pemerintah.
Pesawat yang saya tumpangi sangat jauh dari kesan mewah, kabinnya sempit, suara mesin mendominasi dan setiap getaran terasa nyata. Tapi di balik itu ada satu hal yang jauh lebih penting, pesawat perintis ini adalah penghubung kehidupan bagi warga di perbatasan.
Selama kurang lebih satu jam perjalanan, bentang alam Kaltara terlihat seperti hamparan hijau tanpa batas. Sungai-sungai besar membelah hutan lebat, memperlihatkan betapa sulitnya akses darat yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan.
Setibanya di Bandara Long Ampung, rasa lega langsung terasa. Bandara ini tampak cukup megah untuk ukuran wilayah perbatasan.
Bangunannya mencolok dengan warna kuning keemasan, dipadukan ornamen khas Dayak yang menghiasi bagian depan. Atapnya melengkung tinggi, menyerupai arsitektur tradisional yang menjadi identitas lokal.
Di tengah keterisolasian, bandara ini menjadi penanda bahwa negara hadir di beranda terluar.
Kehidupan sesungguhnya di Bandara pun terlihat dari aktivitas sederhana di sekitar bandara. Setiap kali pesawat mendarat, warga berdatangan.
Ada yang menjemput keluarga, ada pula yang menunggu kiriman barang. Kardus-kardus berisi kebutuhan pokok diturunkan perlahan dari badan pesawat.
Tak ada hiruk-pikuk seperti bandara besar tapi setiap kedatangan pesawat membawa arti penting.
Bagi masyarakat Apau Kayan, pesawat perintis bukan sekadar alat transportasi, melainkan urat nadi kehidupan. Dari sinilah bahan pokok masuk, pasien dirujuk, dan koneksi dengan dunia luar tetap terjaga.
Di tengah segala keterbatasan itu, kunjungan Wagub Ingkong Ala ke Apau Kayan bukan sekadar agenda seremonial.
Rombongan datang untuk menerima kunjungan Timbalan Menteri Digital Sarawak, Datuk Wilson Uga Anak Kumbong ke Desa Long Nawang di Kecamatan Kayan Hulu
Pertemuan di wilayah perbatasan ini menjadi momentum penting untuk membahas kerja sama pengembangan kawasan perbatasan Kaltara dengan Sarawak, Malaysia, terutama dalam membuka konektivitas dan mempercepat pembangunan wilayah yang selama ini terisolasi.
(bersambung)







