TARAKAN – Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian sulit dibedakan antara fakta dan opini, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tarakan menggelar dialog publik bertajuk “Meneguhkan Semangat Sumpah Pemuda di Era Post-Truth: Peran Media dan Generasi Muda Menjaga Kebenaran.”
Acara yang digelar di Aula Universitas Terbuka (UT) Tarakan ini turut disiarkan langsung melalui kanal YouTube RRI Tarakan, Selasa (28/10/2025).
Dialog publik tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Utara Kombes Pol. Budi Rachmat, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kota Tarakan Endah Sarastiningsih, serta Ketua Dewan Kehormatan PWI Kaltara, H. Rachmat Rolau.
Ketua Panitia, Andre Aristyan, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak dalam menyikapi informasi di era post-truth.
“Target utama kami adalah mahasiswa dan pelajar. Mereka adalah garda terdepan menghadapi arus informasi yang tidak selalu benar. Di era post-truth, kebenaran bisa kabur karena opini dan emosi,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan melakukan verifikasi dan cek fakta merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki setiap individu sebelum mempercayai atau membagikan informasi di media sosial.
“Mengetik dan membagikan itu mudah, tapi dampaknya bisa besar. Karena itu, kebenaran harus dijaga dengan data dan tanggung jawab,” tambahnya.
Ketua PWI Tarakan, Andi Muhammad Rizal, menilai bahwa Sumpah Pemuda menjadi momentum tepat untuk memperkuat literasi media di kalangan generasi muda.
“Pemuda hari ini adalah penggerak utama arus informasi. Mereka bisa menjadi agen perubahan positif, tapi juga bisa terjebak dalam penyebaran hoaks. Karena itu, kesadaran kritis dan tanggung jawab bermedia harus terus dibangun,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala DKISP Tarakan, Endah Sarastiningsih, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan media dalam menjaga keseimbangan informasi publik.
“Opini sering kali mengalahkan fakta. Pemerintah harus adaptif dan cepat dalam memberikan informasi yang akurat. Media berperan menjaga kepercayaan publik dengan menyajikan fakta yang berimbang,” ujarnya.
Endah juga mengingatkan peran wartawan sebagai penjaga kebenaran.
“Wartawan adalah benteng terakhir melawan disinformasi. Tugasnya bukan hanya melaporkan, tapi memastikan publik mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Endah
Dialog publik tersebut berlangsung hangat dan interaktif. Antusiasme peserta, terutama mahasiswa dan pelajar, terlihat dari banyaknya pertanyaan dan pandangan kritis yang muncul selama sesi diskusi.
Momentum peringatan Sumpah Pemuda kali ini pun menjadi pengingat, bahwa semangat persatuan dan cinta tanah air juga berarti menjaga kebenaran di tengah kebisingan informasi digital.(*)













