JAKARTA – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Zainal A. Paliwang mendorong penguatan kemampuan bahasa Inggris dan pendidikan vokasi sebagai bagian dari strategi meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di daerah.
“Kemampuan bahasa Inggris menjadi kompetensi penting bagi generasi muda Kaltara, terutama karena provinsi tersebut memiliki posisi strategis sebagai wilayah perbatasan negara,” kata Zainal, Rabu (30/9/2026)
Gubernur mengungkapkan, saat ini Pemprov Kaltara telah menggandeng Kedutaan Besar Australia, Austrade (Komisi Perdagangan dan Investasi Australia di Indonesia), serta Briton English Education di bawah naungan PT Cahaya Rahmat Edukasi untuk mengembangkan program pendidikan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi siswa dan guru.
“Kerja sama ini jangan hanya berhenti pada penandatanganan MoU. Kita ingin ada program yang nyata, terukur dan berkelanjutan sehingga manfaatnya bisa dirasakan dunia pendidikan di Kaltara,” ungkapnya.
Kerja sama itu mencakup dua fokus utama, yakni pengembangan Program Sekolah Berbahasa Inggris (SBI) dan sekolah unggulan, serta pengembangan kerja sama sekolah berskala internasional melalui program sister school.
“Pada program SBI, penguatan dilakukan melalui pemetaan kompetensi, pengembangan metodologi pengajaran guru berstandar Cambridge English, trainer development, hingga quality assurance,” jelas dia
Zainal bilang, penguasaan bahasa Inggris perlu dibangun melalui lingkungan yang mendorong peserta didik menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara tersebut, kemampuan berbahasa tidak berhenti pada penguasaan materi di ruang kelas.
“Kita ambil contoh seperti di Bali yang banyak warganya fasih berbahasa Inggris. Atau di Kampung Inggris Pare di Kediri, Jawa Timur. Bahasa Inggris itu jadi bahasa sehari-hari selain bahasa Indonesia dan bahasa daerah,” ujarnya.
Selain bahasa Inggris, Pemprov Kaltara mendorong pengembangan pendidikan vokasi agar kompetensi lulusan lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri.
“Pendidikan vokasi diarahkan untuk membekali peserta didik dengan keterampilan teknis yang relevan sehingga lulusan memiliki kesiapan lebih baik ketika memasuki dunia kerja,” jelas Zainal.
“Program sister school juga menjadi bagian dari kerja sama untuk membuka peluang pengembangan jejaring pendidikan internasional bagi sekolah-sekolah di Kaltara,” sambung dia.
Zainal menegaskan, implementasi kerja sama harus memberikan manfaat nyata dan tidak berhenti pada kesepakatan administratif. Program juga diharapkan dapat menjangkau sekolah, guru dan peserta didik secara lebih luas di Kaltara.
“Dengan pendidikan yang berkualitas, keterampilan yang relevan, dan kemampuan bahasa internasional yang baik, kita ingin generasi muda Kaltara mampu berperan dalam pembangunan dan bersaing di tingkat global,” pungkasnya.(*)







