GAGASAN menggunakan tepung singkong untuk membantu memadamkan kebakaran hutan terdengar sederhana dan menarik.
Indonesia memiliki sumber daya singkong yang melimpah sehingga, sekilas, gagasan tersebut tampak menawarkan solusi berbasis bahan lokal.
Namun, dalam persoalan kebakaran hutan dan lahan, terutama yang menyangkut keselamatan petugas dan masyarakat, setiap gagasan harus melewati satu pertanyaan mendasar:
Apakah bahan tersebut benar-benar dapat memadamkan api, atau justru berpotensi menambah sumber bahan bakar ketika berada dalam bentuk partikel halus di udara?
Pertanyaan ini penting karena tepung singkong pada dasarnya merupakan bahan yang kaya pati. Pati bukan bahan inert seperti pasir atau tanah. Dalam bentuk bubuk yang sangat halus, pati termasuk kategori debu yang dapat terbakar dan dalam kondisi tertentu, berpotensi menimbulkan ledakan debu.
Organisasi keselamatan kerja Amerika Serikat, OSHA, memasukkan starch, flour, grain, sugar dan berbagai bahan pangan berbentuk bubuk ke dalam kategori combustible dust atau debu yang mudah terbakar.
Ketika partikel halus tersebut tersuspensi di udara dalam konsentrasi tertentu dan bertemu dengan sumber penyalaan, awan debu dapat terbakar dengan sangat cepat dan menghasilkan tekanan ledakan.
Bahkan, terdapat penelitian eksperimental yang secara khusus menguji fenomena ledakan debu pati singkong.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa karakteristik ledakan pati singkong dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain konsentrasi debu, waktu tunda penyalaan dan kondisi dispersi.
Dengan kata lain, secara ilmiah memang terdapat fenomena yang dikenal sebagai cassava starch dust explosion.
Namun, hal itu bukan berarti setiap tepung singkong yang dilemparkan ke api otomatis akan menghasilkan ledakan. Kesimpulan seperti itu tentu tidak tepat. Persoalannya terletak pada bagaimana bahan tersebut diaplikasikan, dalam kondisi seperti apa, serta bagaimana perilaku partikelnya ketika berada di lingkungan kebakaran.
Air dan Tepung Memiliki Prinsip Kerja Berbeda
Air dan tepung memiliki mekanisme kerja yang sangat berbeda dalam menghadapi api.
Dalam pemadaman kebakaran, air bekerja terutama melalui mekanisme pendinginan.
Air menyerap panas dalam jumlah besar dan ketika menguap membawa panas keluar dari zona pembakaran.
Tepung singkong tidak memiliki karakteristik yang sama. Jika tepung disebarkan dalam kondisi kering, yang terbentuk bukan lapisan pendingin seperti pada penggunaan air, melainkan partikel-partikel padat yang dapat terbawa oleh udara.
Dalam kebakaran hutan, terdapat panas tinggi, turbulensi, angin, serta pergerakan udara yang kuat. Kondisi tersebut secara prinsip dapat membantu mendispersikan partikel-partikel halus.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar, “Apakah tepung bisa menutupi api?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang terjadi ketika sejumlah besar partikel pati halus disemprotkan atau disebarkan ke lingkungan yang memiliki panas tinggi dan sumber penyalaan?”
Pertanyaan tersebut harus dijawab melalui pengujian keselamatan yang serius.
Justru bentuk bubuk keringnya yang menjadi salah satu persoalan utama. Pati dalam bentuk padat dan menggumpal tentu memiliki karakteristik berbeda dengan pati yang berubah menjadi awan debu.
Fenomena dust explosion terjadi karena luas permukaan partikel yang sangat besar memungkinkan proses pembakaran berlangsung sangat cepat ketika partikel-partikel tersebut terdispersi di udara.
Sejumlah lembar informasi keselamatan internasional mengenai pati juga memperingatkan bahwa partikel pati yang sangat halus dapat membentuk campuran yang mudah terbakar atau eksplosif dengan udara. Penelitian terhadap pati singkong pun menunjukkan adanya karakteristik ledakan ketika debu pati didispersikan dan kemudian mendapatkan sumber penyalaan.
Karena itu, jika ide pemanfaatan tepung singkong hendak dikembangkan, bentuk bubuk keringnya justru harus menjadi salah satu aspek keselamatan utama yang diperiksa, bukan diabaikan.
Jangan Samakan Tepung dengan Bahan Pemadam Berbasis Pati
Di sini diperlukan pembedaan yang sangat penting. Ada perbedaan antara tepung singkong kering yang ditebarkan ke api dengan pati yang telah diformulasikan secara khusus dalam media cair sebagai bahan tambahan pemadam atau retardant.
Keduanya bukan hal yang sama.
Pati yang telah dimodifikasi atau diformulasikan dalam larutan mungkin memiliki fungsi berbeda, misalnya meningkatkan viskositas atau membantu mempertahankan kelembapan.
Namun, hal tersebut harus dibuktikan melalui penelitian dan tidak dapat disamakan dengan menaburkan tepung kering ke sumber api.
Karena itu, jika memang ada gagasan untuk memanfaatkan singkong dalam teknologi pemadaman kebakaran, arah penelitian yang lebih rasional adalah mengkaji pati sebagai bagian dari formulasi berbasis air, bukan langsung menyimpulkan bahwa tepung singkong kering dapat menjadi pengganti media pemadam.
Keselamatan Petugas Harus Menjadi Pertimbangan Pertama
Pemadaman kebakaran hutan bukan eksperimen laboratorium yang berlangsung dalam kondisi terkendali.
Petugas bekerja dalam kondisi panas ekstrem, asap, angin, medan yang sulit, serta pergerakan api yang dinamis. Kesalahan dalam memilih atau mengaplikasikan bahan dapat menimbulkan konsekuensi serius.
Jika sebuah bahan berbentuk bubuk memiliki sifat mudah terbakar kemudian disebarkan menggunakan tekanan udara atau alat penyemprot di sekitar sumber api, karakteristik dispersi partikelnya harus diketahui terlebih dahulu.
Jangan sampai sebuah inovasi yang dimaksudkan untuk memadamkan api justru menciptakan risiko baru bagi petugas di lapangan.
Prinsip Kehati-hatian
Gagasan menggunakan bahan lokal tentu harus diapresiasi. Kita tidak boleh alergi terhadap inovasi.
Namun, inovasi tidak boleh dibangun hanya berdasarkan logika bahwa bahan tersebut mudah didapat dan murah, sehingga dianggap pasti dapat digunakan.
Dalam teknologi kebakaran, prinsipnya justru harus dibalik:
Apakah bahan ini aman? Apakah efektif? Apakah dapat dikendalikan? Apakah sudah teruji?
Setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab, barulah kita berbicara mengenai biaya, ketersediaan, dan skala penggunaannya.
Jika ingin menguji tepung atau pati singkong, setidaknya perlu dilakukan pengujian terhadap efektivitas pemadaman, karakteristik pembakaran, risiko dust explosion, ukuran partikel, kadar air, perilaku ketika terdispersi, dampak lingkungan, serta kompatibilitas dengan peralatan pemadam.
Penelitian mengenai pati singkong sendiri menunjukkan bahwa parameter seperti konsentrasi debu dan kondisi dispersi berpengaruh terhadap karakteristik ledakan.
Artinya, kita tidak sedang berhadapan dengan bahan yang secara otomatis netral terhadap api.
Jangan Mencari Solusi Sederhana untuk Persoalan yang Kompleks
Kebakaran hutan dan lahan, terutama kebakaran gambut, merupakan persoalan yang kompleks.
Solusinya membutuhkan pencegahan, pemantauan, sistem peringatan dini, pengelolaan tata air, kesiapsiagaan masyarakat, akses pemadaman, peralatan yang tepat, serta teknologi pemadaman yang telah terbukti.
Tidak ada satu bahan ajaib yang dapat menggantikan seluruh sistem tersebut.
Karena itu, gagasan pemanfaatan tepung singkong sebaiknya ditempatkan sebagai hipotesis penelitian, bukan sebagai teknologi pemadam yang sudah terbukti.
Kita boleh mencoba hal baru. Bahkan, kita memang harus terus berinovasi.
Tetapi keselamatan publik tidak boleh menjadi tempat untuk melakukan eksperimen tanpa dasar ilmiah yang memadai.
Jika tepung singkong memang terbukti efektif setelah melalui pengujian yang ketat, mari kita gunakan.
Jika ternyata tidak efektif atau memiliki risiko keselamatan yang lebih besar, kita juga harus berani mengatakan tidak.
Sebab dalam menghadapi kebakaran, keberanian bukan hanya keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.
Keberanian yang lebih penting adalah keberanian untuk mengatakan:
“Mari kita uji terlebih dahulu sebelum kita gunakan.”
Api Harus Dilawan dengan Ilmu, Bukan Asumsi
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah ide tersebut berasal dari presiden, pemerintah, ilmuwan, atau masyarakat biasa.
Setiap gagasan harus tunduk pada hukum fisika, kimia, keselamatan, dan bukti ilmiah.
Api tidak mengenal jabatan.
Dan keselamatan manusia harus selalu ditempatkan lebih tinggi daripada keinginan untuk membuktikan sebuah gagasan.
Bangsa ini tidak kekurangan keberanian untuk mencoba. Yang kita butuhkan adalah kebijaksanaan untuk memastikan bahwa setiap upaya benar-benar membawa manfaat.
Inovasi harus lahir dari keberanian berpikir, tetapi juga dari kerendahan hati untuk menguji dan menerima kebenaran ilmiah.
Kita boleh memiliki gagasan besar, tetapi jangan pernah mengorbankan keselamatan manusia demi membuktikan sebuah gagasan.
Sebab, kemajuan bukanlah ketika kita sekadar berani mencoba sesuatu yang baru, melainkan ketika keberanian itu dipandu oleh ilmu pengetahuan, kehati-hatian, dan tanggung jawab.
Api harus kita lawan dengan ilmu, bukan dengan asumsi.
Dan setiap inovasi terbaik pada akhirnya bukanlah yang paling spektakuler, melainkan yang paling aman, terbukti, dan benar-benar bermanfaat bagi kehidupan.(*)
