Kunjungi Perbatasan RI-Malaysia, Rahmawati Temukan Kendala Layanan Kesehatan di PLBN Labang

NUNUKAN – Anggota Komisi VII DPR RI, Rahmawati, menemukan kendala layanan kesehatan saat melakukan kunjungan ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Labang, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) pekan lalu.

Dalam kunjungan itu, Rahmawati menyoroti belum tersedianya tenaga kesehatan yang siaga di kawasan perbatasan. Padahal, akses menuju fasilitas kesehatan terdekat membutuhkan waktu hingga empat jam perjalanan.

“Hanya ada sedikit keluhan dari petugas PLBN yakni perlu adanya tenaga kesehatan (nakes). Bisa perawat atau mantri yang ada di sana,” kata Rahmawati.

“Kalau misalnya ada kecelakaan, ada yang jatuh atau kondisi darurat pada malam hari, untuk dibawa ke puskesmas terdekat memerlukan waktu kurang lebih empat jam,” sambung dia.

Ia menegaskan, keberadaan tenaga kesehatan sangat penting untuk memberikan pertolongan pertama bagi petugas maupun masyarakat sekitar apabila terjadi kondisi darurat, seperti kecelakaan, sakit mendadak, maupun persalinan.
.
Kebutuhan tenaga kesehatan di kawasan perbatasan dapat dipenuhi melalui penempatan perawat atau mantri secara bergiliran oleh pemerintah daerah maupun fasilitas kesehatan terdekat.

“Tidak perlu dokter, yang penting tenaga nakes itu bisa perawat atau mantri yang bisa di-rolling mungkin dari kabupaten atau pusat-pusat kesehatan terdekat, misalnya seminggu sekali diganti,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, kunjungan ke PLBN Labang itu ditempuh dengan perjalanan sekitar lima jam melalui jalur sungai. Akses menuju kawasan perbatasan tersebut hingga kini masih mengandalkan transportasi sungai karena belum tersedia jalur darat.

“Karena namanya perbatasan 3T dan kita ke sana belum ada jalan lewat darat. Jadi kita lewat sungai dengan menempuh perjalanan lebih kurang lima jam. Sedangkan ke Malaysia hanya satu jam sampai ke kecamatannya,” ujarnya.

Rahmawati bilang, pihaknya mengapresiasi kondisi fasilitas di PLBN Labang yang dinilainya telah dibangun dengan baik dan memberikan kenyamanan bagi petugas yang bertugas menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia.

“Karena itu adalah berandanya Indonesia, perbatasan antara dua negara. Saya melihat mereka senang di sana karena baik dari pihak imigrasi maupun komandan penjagaan dilakukan rolling setahun sekali,” tutupnya.(*)