TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mengantisipasi peningkatan kebutuhan listrik khususnya di Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Tanah Kuning–Mangkupadi, Kecamatan Tanjung Palas Timur Kabupaten Bulungan.
Kepala Dinas ESDM Kaltara Dr. Ferdy Manurun Tanduklangi, S.E., M.Si., mengungkapkan, ketersediaan energi menjadi salah satu faktor penting mendukung operasional industri berskala besar, sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap kesiapan infrastruktur di Bumi Benuanta.
“Kondisi kelistrikan di Kaltara saat ini masih surplus daya sekitar 47 megawatt (MW). Kapasitas pasokan listrik tercatat mencapai 154 MW, sementara kebutuhan yang berjalan sekitar 107 MW,” kata Ferdy, Senin (22/9/2026).
“Selisih itu menjadi ruang awal untuk mendukung pertumbuhan kebutuhan energi di daerah. Namun, peningkatan aktivitas industri diperkirakan membutuhkan perencanaan pasokan listrik yang lebih matang agar ketersediaan daya dapat mengikuti perkembangan investasi,” sambung dia.
Ferdy menjelaskan, pengembangan KIHI Tanah Kuning–Mangkupadi menjadi salah satu perhatian dalam perencanaan tersebut. Apalagi, Kawasan ini bakal menjadi pusat kegiatan industri yang membutuhkan dukungan energi stabil dan berkelanjutan.
“Karena itu, kesiapan sektor kelistrikan perlu berjalan beriringan dengan pembangunan fasilitas industri. Tidak hanya menyangkut kapasitas pembangkit, tetapi juga kesiapan jaringan distribusi serta infrastruktur pendukung untuk menyalurkan listrik ke kawasan itu,” jelasnya.
Ferdy mengatakan, ESDM Kaltara juga menaruh perhatian pada kesinambungan pasokan energi selama proses pengembangan kawasan berlangsung, termasuk sebelum pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dapat beroperasi secara penuh.
“Upaya antisipasi ini sangat penting untuk mengurangi risiko ketidaksesuaian antara pertumbuhan kebutuhan listrik dan kapasitas pasokan yang tersedia,” tegasnya.
Ferdy bilang, dengan perencanaan sejak dini, kebutuhan energi industri diharapkan dapat dipenuhi secara bertahap sesuai perkembangan pembangunan.
“Pengembangan industri hijau menuntut ketersediaan energi yang andal untuk menopang kegiatan produksi dalam jangka panjang. Kepastian pasokan listrik menjadi salah satu pertimbangan utama bagi investor dalam menentukan keberlanjutan operasional usaha,” ujarnya.
Ia menegaskan, Kaltara memiliki potensi sumber daya energi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan tersebut. Meski demikian, optimalisasi potensi itu membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, penyedia tenaga listrik, dan pengelola kawasan industri.
“Dengan surplus daya yang tersedia saat ini, Kaltara memiliki modal awal untuk memperkuat kesiapan kelistrikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, tantangan lainnya yaitu memastikan kapasitas dan infrastruktur energi berkembang sejalan dengan meningkatnya kebutuhan industri.
“Upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisi Kaltara sebagai tujuan investasi industri, sekaligus memastikan pembangunan KIHI Tanah Kuning–Mangkupadi didukung sistem energi yang andal dan berkelanjutan,” tutupnya.(*)







