PASURUAN – Harapan menghadirkan terang di pelosok Kalimantan Utara (Kaltara) terus diupayakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, yang menaruh perhatian serius pada kebutuhan dasar masyarakat di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), terutama akses listrik yang hingga kini belum merata.
Wakil Gubernur (wagub) Kaltara, Ingkong Ala, turun langsung meninjau pabrik PT Santinilestari Energi Indonesia di Pasuruan, akhir pekan kemarin
Kunjungan ini bukan sekadar agenda kerja, melainkan bagian dari ikhtiar mencari solusi nyata bagi masyarakat di pedalaman dan perbatasan yang masih hidup tanpa listrik.
Di lokasi, Ingkong disambut Direktur PT Santinilestari Energi Indonesia, Sandy Hartono, sekaligus mendapatkan penjelasan rinci mengenai teknologi energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya yang dinilai cocok diterapkan di wilayah terpencil seperti Kaltara.
Bagi Ingkong, listrik bukan hanya soal penerangan, tetapi juga pintu masuk bagi kemajuan.
“Layanan dasar seperti listrik ini punya peran penting bagi masyarakat di pedalaman. Ini menyangkut pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian warga,” ujarnya.
Ingkong tak menampik bahwa kondisi geografis Kaltara yang didominasi hutan, sungai, dan wilayah perbatasan menjadi tantangan besar dalam pembangunan infrastruktur.
“Akses yang sulit membuat distribusi jaringan listrik konvensional tidak selalu memungkinkan,” kata Ingkong.
“Karena itu, Pemprov Kaltara mulai melirik energi alternatif. Dan kita terus mencari solusi di luar layanan konvensional, salah satunya melalui pemanfaatan energi surya. Ini lebih fleksibel untuk menjangkau daerah terpencil,” sambung dia.
Ingkong Ala juga menyaksikan langsung proses produksi panel surya, baterai penyimpanan energi, hingga sistem instalasi distribusi listrik. Teknologi ini diharapkan mampu menjadi jawaban bagi desa-desa yang selama ini belum tersentuh listrik. Data Pemprov Kaltara mencatat, masih terdapat sekitar 73 hingga 123 desa yang belum teraliri listrik.
“Sebagian besar berada di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan dan Malinau. Daerah yang selama ini menjadi wajah terdepan Indonesia, belum sepenuhnya menikmati terang,” jelasnya.
Ia menegaskan, dengan upaya bertahap, pemerintah menargetkan 10 hingga 20 desa dapat dialiri listrik setiap tahun.
“Upaya ini menjadi bagian dari komitmen menghadirkan keadilan pembangunan energi listrik hingga ke titik terluar,” tegasnya.
Di balik kunjungan ini, Ingkong punya harapan yang sederhana yakni ketika lampu-lampu mulai menyala di desa perbatasan, kehidupan warga perlahan ikut berubah, anak-anak bisa belajar di malam hari, layanan kesehatan lebih optimal, dan roda ekonomi mulai bergerak.(*)













