Upin-Ipin Tak Tahan Jerebu, Asap Karhutla Kalimantan dan Sumatera Sampai ke Malaysia

TANJUNG SELOR — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia kembali menjadi perhatian setelah dampaknya dirasakan hingga Malaysia. Jerebu menyelimuti sejumlah wilayah negeri jiran dan mengganggu kualitas udara.

Situasi itu turut mendapat perhatian dari karakter animasi populer asal Malaysia, Upin dan Ipin. Melalui akun Instagram resminya, @upinipinofficial, rumah produksi Les’ Copaque Production membagikan materi edukasi mengenai cara menjaga kesehatan saat menghadapi jerebu.

Dalam unggahan itu, Upin dan Ipin terlihat mengenakan masker. Keduanya mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak kabut asap dan menjaga kondisi tubuh ketika kualitas udara memburuk.

Sejumlah langkah pencegahan disampaikan, di antaranya mengurangi paparan langsung sinar matahari, memperbanyak minum air putih, menjaga daya tahan tubuh, menggunakan masker ketika berada di luar ruangan serta menjaga kebersihan diri.

Pesan itu muncul di tengah kondisi jerebu yang kembali menjadi perhatian di Malaysia, sementara kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Sumatera dan Kalimantan.

Kondisi jerebu di Malaysia bahkan sempat mencapai level mengkhawatirkan. Di Serian, Sarawak, indeks polusi udara pernah menembus angka 521 sehingga pemerintah setempat menetapkan status darurat. Kuching juga sempat mencatat kualitas udara dalam kategori berbahaya.

Di Indonesia, penanganan karhutla masih berlangsung. Kementerian Kehutanan mencatat hingga 8 September 2026 terdapat 397 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional. Titik panas terpantau di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, meski beberapa provinsi menunjukkan penurunan.

Asap juga masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah daerah. Pemantauan BMKG pada 8 September mencatat kondisi berasap di Pontianak, Palangka Raya, Palembang, Pekanbaru dan Jambi.

BNPB sebelumnya menetapkan enam provinsi sebagai wilayah prioritas penanganan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.

Penanganan dilakukan melalui operasi darat, patroli udara, pemadaman, water bombing hingga Operasi Modifikasi Cuaca.

Di tengah persoalan itu, pesan edukasi Upin dan Ipin soal jerebu menjadi pengingat bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan lokal. Asap dapat terbawa angin dan berdampak ke wilayah lain, bahkan melintasi batas negara.

Sementara itu, dampak karhutla juga masih terjadi di Kalimantan Utara (Kaltara). Hingga 4 September 2026, total lahan terdampak kebakaran di provinsi tersebut tercatat mencapai 2.639,99 hektare.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara Nur Laila mengatakan, sebagian besar luasan tersebut berada di Kabupaten Bulungan yang mencapai 2.597,38 hektare. Karhutla juga tercatat di Tarakan seluas 31,86 hektare, Tana Tidung 6,25 hektare, dan Malinau 4,50 hektare.

“Paling luas itu di Bulungan. Ini masih ada tambahan titik baru yang terbakar. Saat ini masih ada titik api yang belum padam,” kata Nur Laila, Rabu (9/9/2026).

Dijelaskannya, berdasarkan rekapitulasi Dishut Kaltara, dari total luasan tersebut sekitar 1.900 hektare berada di Area Penggunaan Lain (APL), 737,49 hektare di kawasan hutan produksi, dan 2,50 hektare berada di hutan lindung.

“Lonjakan terbesar terjadi dalam beberapa hari terakhir di kawasan Mangkupadi, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Bulungan,” ujarnya.

Inventarisasi sementara menunjukkan sekitar 2.400 hektare lahan terbakar di kawasan tersebut. Luasan itu terdiri atas sekitar 1.700 hektare di wilayah KIPI dan 700 hektare di area perusahaan Lensamur.

“Personel kami masih melakukan pemadaman di sejumlah lokasi. Tim di Mangkupadi bahkan masih berada di lapangan hingga dini hari untuk menangani titik api yang belum sepenuhnya padam,” ujarnya.

Penanganan dilakukan bersama unsur gabungan, mulai dari Dishut Kaltara, Brigade Pengendalian Karhutla, Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, hingga relawan dan masyarakat. Metode pemadaman disesuaikan dengan karakteristik lahan. Untuk kawasan mineral, petugas melakukan penyiraman langsung ke titik api.

“Sementara di lahan gambut, pemadaman dilakukan menggunakan peralatan khusus agar air dapat mencapai lapisan bawah tanah yang berpotensi menyimpan bara,” pungkasnya.(*)