TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis distribusi tingkat pengangguran berdasarkan Pendidikan tertinggi para lulusan sekolah. Lulusan SMA menjadi penyumbang terbesar terjadinya tingkat pengangguran di Indonesia, termasuk di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
Berdasarkan data BPS, Lulusan SMA menyumbang 30,72 persen, lalu posisi kedua lulusan SMK sebesar 24,65 persen, lulusan SD ke bawah sebesar 16,45 persen, lulusan SMP sebesar 14,61 persen, lalu lulusan Diploma IV, S1, S2, S3 sebesar 11,28 persen dan lulusan Diploma I, II, III sebesar 2,29 persen.
Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Kaltara, Adi Nata Kusuma, mengatakan bertambahnya jumlah pengangguran ini terus terjadi di sejumlah daerah termasuk Kaltara.
“Para lulusan sekolah tersebut harus bisa mencari alternatif pekerjaan, seperti usaha kecil-kecilan, sektor pertanian dan peternakan,” kata Adi Nata Kusuma, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, sektor produksi pangan sedang giat-giatnya di lakukan baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Daerah termasuk di Provinsi Kalimantan Utara. Sehingga, para lulusan sekolah dibutuhkan kemauan dan kerja keras karena sukses punya usaha akan berbeda dengan sukses bekerja di perusahaan orang.
“Kita Prihatin dengan angka yang cukup besar para lulusan sekolah menjadi penyumbang terbesar di Indonesia termasuk di Kaltara, sehingga harus ada kesadaran Masyarakat lulusan sekolah ini untuk mencarti alternatif untuk berusaha di sektor pangan,” ujarnya.
Sektor pangan yang dimaksud Adi Nata Kusuma adalah membuka lahan Perkebunan, membuka lahan perternakan. Apalagi, dalam waktu dekat program Pemerintah Pusat yang mencanangkan “Makan Bergizi” setiap hari dan membutuhkan bahan baku pangan yang cukup di setiap daerah.
“Jika makan Bergizi sudah aktif dilaksanakan, maka setiap daerah akan membutuhkan bahan baku pangan yang tersedia didaerah tersebut, karena daerah lain juga membutuhkan, jadi tidak sempat untuk mengirim ke Kaltara, jadi kita di Kaltara harus ambil bagian menjadi salah satu pemasok bahan pangan tersebut,” tutupnya. (*)
