Rantai Pasok Pangan Bulungan Diperkuat, Kawasan Desa Apung Jadi Pasar Potensial

TANJUNG SELOR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan mendorong penguatan rantai pasok pangan daerah dengan menjadikan kawasan desa Apung sebagai salah satu pasar potensial bagi produk pertanian dan peternakan masyarakat.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Produksi petani dan peternak lokal diharapkan tidak hanya meningkat, tetapi juga memiliki kepastian pasar.

Bupati Bulungan, Syarwani mengatakan, kawasan desa Apung memiliki potensi besar untuk menjadi pasar bagi berbagai komoditas pangan yang dihasilkan masyarakat. Keberadaan kawasan industri dan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut dinilai dapat menciptakan permintaan yang relatif besar.

Menurut Syarwani, peluang tersebut harus ditangkap melalui penguatan produksi masyarakat, khususnya komoditas yang dibutuhkan untuk mendukung sektor peternakan maupun konsumsi sehari-hari.

“Yang kita bangun adalah ekosistemnya. Ada produksi di tingkat petani, ada peternak, kemudian ada pasar yang menyerap hasil produksi tersebut,” kata Syarwani.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah jagung yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Pengembangan produksi jagung di sejumlah wilayah Bulungan dinilai memiliki peluang untuk mendukung kebutuhan pakan sekaligus membuka pasar baru bagi petani.

Selain jagung, bahan baku lain seperti dedak hasil penggilingan padi dan hasil tangkapan nelayan juga berpotensi masuk dalam rantai pasok tersebut.

Skema itu diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Pada saat yang sama, biaya distribusi dan transportasi bahan baku dapat ditekan sehingga memberikan dampak terhadap efisiensi produksi.

“Kalau bahan bakunya bisa kita siapkan dari Bulungan, tentu akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Petani punya pasar, peternak mendapatkan bahan baku, dan kebutuhan pangan di kawasan tersebut bisa dipenuhi dari daerah sendiri,” ujarnya.

Penguatan rantai pasok juga mencakup komoditas peternakan dan hortikultura. Produk seperti daging, telur, sayuran, buah-buahan hingga komoditas pangan lainnya berpeluang dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pekerja di kawasan Apung.

Pemkab Bulungan menilai pola tersebut dapat menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan antara masyarakat dan dunia usaha.

Petani memperoleh kepastian penyerapan produksi, peternak mendapatkan akses bahan baku yang lebih dekat, sementara pelaku usaha memperoleh pasokan pangan yang lebih efisien.
Pemerintah daerah selanjutnya mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, petani, peternak, dan kelompok masyarakat untuk membangun model pengembangan pangan yang berkelanjutan.

Jika berjalan optimal, kawasan Apung tidak hanya menjadi tujuan pemasaran produk lokal, tetapi juga dapat berkembang menjadi salah satu simpul distribusi pangan Bulungan.

“Harapannya, jangan sampai kebutuhan pangan di kawasan itu didatangkan dari luar sementara masyarakat kita sebenarnya mampu memproduksinya. Ini yang ingin kita hubungkan,” tutupnya.(*)