TANJUNG SELOR — Raja Muda Kesultanan Bulungan, Drs. H. Datu Dissan Hasanuddin Maulana, berpulang pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Kabar duka tersebut disampaikan Ketua Yayasan Sejarah dan Budaya Kalimantan Utara, Joko Supriyadi, dalam obituari yang mengenang sosok Datu Dissan sebagai salah satu tokoh yang turut menjaga sejarah dan kebudayaan Kesultanan Bulungan.
Joko menyebut Datu Dissan bukan hanya bagian dari keluarga Kesultanan Bulungan, tetapi juga dikenal sebagai salah satu penjaga arsip keluarga Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin.
“Arsip itu menjadi bagian dari dokumentasi sejarah Kalimantan Utara, termasuk sumber foto dan informasi mengenai Kesultanan Bulungan,” kata Joko.
Selain itu, Datu Dissan merupakan putra Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin dan Aji Ratu Djubaidah.
Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin tercatat memerintah Kesultanan Bulungan pada 1931–1949 dan kemudian menjadi Kepala Daerah Istimewa pada 1955–1958.
“Selain menjaga arsip keluarga, Datu Dissan juga menjadi narasumber dalam berbagai kajian mengenai adat dan kebudayaan Bulungan, termasuk rumah adat, bahasa dan tradisi masyarakat. Namanya tercatat dalam Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2018 terkait tradisi Biduk Bebandung,” jelasnya.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Datu Dissan pernah menjadi bagian dari Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) bidang Seni dan Budaya serta Tim Ahli Gubernur. Ia juga pernah menjabat Ketua Umum Himpunan Keluarga Besar Bulungan (HKBB) Kota Tarakan, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Tarakan dan anggota Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).
“Datu Dissan juga terlibat dalam proses hibah lahan bekas kompleks Istana II Kesultanan Bulungan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara,” ungkap Joko
Sebagai kuasa ahli waris Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, ia turut menyerahkan lahan tersebut untuk kepentingan pelestarian dan pembangunan kembali kawasan Kesultanan Bulungan.
Joko menjelaakan, Jenazah Datu Dissan rencananya akan dimakamkan Sabtu pagi, 3 Oktober 2026, di Tanjung Palas, tepatnya di belakang Masjid Sultan Kasimuddin. Jenazah akan diberangkatkan dari Tarakan.
“Lokasi tersebut merupakan tempat ayahanda beliau, Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, dimakamkan bersama sejumlah Sultan Bulungan lainnya,” tuturnya.
Ia menambahkan, Kepergian Datu Dissan meninggalkan duka bagi keluarga besar Kesultanan Bulungan dan masyarakat Kaltara.
“Namun warisan yang ditinggalkan Datu Dissan tetap hidup melalui arsip, adat, bahasa, tradisi dan cerita sejarah yang diteruskan kepada generasi berikutnya,” tutupnya (*)









