TANJUNG SELOR – Tawa riang puluhan siswa sekolah dasar (SD) Almubarak pecah di Halaman Barak Dalmas Ditsamapta Polda Kalimantan Utara (Kaltara) pada Rabu (11/02/2026) pagi.
Di bawah langit Tanjung Selor yang cerah, 34 murid berseragam rapi itu mengikuti program “Polisi Sahabat Anak” yang digelar Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Kaltara.
Jam menunjukkan pukul 08.30 WITA saat kegiatan dimulai. Namun bagi anak-anak itu, pagi tersebut terasa berbeda dari biasanya. Bukan pelajaran matematika atau bahasa Indonesia yang mereka temui, melainkan deretan rambu lalu lintas, kendaraan dinas kepolisian, serta sosok-sosok polisi yang hadir dengan pendekatan ramah dan penuh senyum.
Sejak awal, suasana dibuat cair. Para personel Ditlantas tidak hanya berdiri memberi penjelasan, tetapi juga mengajak siswa berdialog, menebak arti rambu, hingga mempraktikkan cara aman menyeberang jalan. Edukasi dikemas dalam bahasa sederhana dan visual menarik agar mudah dipahami anak-anak usia sekolah dasar.
Satu per satu simbol rambu diperkenalkan mulai dari tanda peringatan, larangan, hingga perintah. Anak-anak tampak antusias ketika diminta menyebutkan arti gambar yang mereka lihat. Bagi sebagian dari mereka, ini adalah kali pertama memahami bahwa warna dan bentuk rambu memiliki makna penting bagi keselamatan di jalan raya.
Tak berhenti pada teori, para siswa juga diajak melihat langsung kendaraan operasional kepolisian. Mobil patroli dan perlengkapan pendukung tugas diperkenalkan sebagai bagian dari upaya menjaga ketertiban berlalu lintas. Momen ini menjadi daya tarik tersendiri; beberapa siswa tampak tak sabar mengajukan pertanyaan seputar tugas polisi di lapangan.
Program “Polisi Sahabat Anak” memang dirancang lebih dari sekadar sosialisasi aturan. Ditlantas Polda Kaltara menekankan bahwa edukasi usia dini merupakan fondasi penting dalam menekan angka kecelakaan di masa mendatang. Dengan mengenal aturan sejak kecil, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi pengguna jalan yang disiplin, waspada, dan menghargai keselamatan diri maupun orang lain.
Dalam sesi patroli edukatif, para siswa diajak berkeliling di area Mapolda Kaltara. Di sana, mereka mempraktikkan langsung cara membaca rambu yang terpasang di lingkungan tersebut. Pendekatan praktik ini memberi pengalaman nyata, sehingga pesan keselamatan tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi jembatan emosional antara polisi dan anak-anak. Melalui interaksi yang hangat, kesan “takut” terhadap aparat perlahan digantikan dengan rasa akrab dan percaya. Polisi hadir bukan sekadar penegak hukum, tetapi juga sahabat yang membimbing dan melindungi.
Menjelang akhir acara, keceriaan semakin terasa saat sesi foto bersama digelar. Barisan siswa berdiri berdampingan dengan personel Ditlantas, mengabadikan momen yang mungkin akan mereka kenang sebagai pengalaman pertama belajar lalu lintas langsung dari polisi.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Di balik kesederhanaannya, program ini menyimpan harapan besar: menanamkan budaya tertib berlalu lintas sejak dini, demi menciptakan generasi yang lebih sadar keselamatan dan berkontribusi pada terciptanya jalan raya yang aman di Kaltara.(*)







