SEMARANG – Langkah 52 anggota Kafilah Kalimantan Utara (Kaltara) di Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026), bukan sekadar mengikuti rangkaian seremoni.
Di balik barisan kafilah yang berjalan bersama peserta dari berbagai daerah di Indonesia, ada nama Bumi Benuanta yang mereka bawa. Ada pula harapan masyarakat dan doa agar setiap peserta mampu memberikan penampilan terbaik di panggung MTQ Nasional.
Suasana itu semakin terasa ketika Gubernur Kaltara Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., hadir memberikan dukungan langsung kepada para kafilah.
Kehadiran gubernur menjadi suntikan semangat bagi peserta yang bersiap memasuki arena perlombaan. Sebanyak 39 peserta Kaltara akan tampil dalam berbagai cabang, didampingi enam pelatih, enam official, dan satu ketua kafilah.
Zainal meminta para peserta tidak menjadikan target prestasi sebagai beban. Sebab, setiap kafilah telah membawa kemampuan terbaik yang perlu ditampilkan dengan ketenangan dan keyakinan.
“Bertandinglah dengan percaya diri dan berikan yang terbaik. Jadikan MTQ ini kesempatan untuk bersilaturahmi dan semakin dekat dengan nilai-nilai Al-Qur’an,” kata Zainal.
Pesan itu menjadi bekal penting bagi para peserta sebelum menghadapi kompetisi. Bagi mereka, tampil di MTQ Nasional bukan hanya tentang mengejar posisi juara, tetapi juga pengalaman membawa nama daerah di tingkat nasional.
Pawai Ta’aruf menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Para kafilah dari berbagai provinsi bertemu, saling menyapa dan membangun persaudaraan sebelum berkompetisi di arena masing-masing.
Kafilah Kaltara akan mengikuti sejumlah cabang, mulai dari tartil, tilawah anak-anak, remaja dan dewasa, Qira’at, tafsir, Syarhil Qur’an, Fahmil Qur’an, kaligrafi, cabang digital hingga Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an.
Keikutsertaan mereka sejalan dengan tema MTQ Nasional XXXI, “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban.”
Tema itu sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan MTQ tidak berhenti pada persoalan menang dan kalah. Ada nilai persaudaraan, pengalaman, keteladanan dan kecintaan terhadap Al-Qur’an yang diharapkan tumbuh dari setiap peserta.
Kini, dari Semarang, Kafilah Kaltara bersiap menghadapi babak perlombaan. Mereka melangkah membawa nama Bumi Benuanta, harapan masyarakat dan pesan gubernur untuk tampil percaya diri serta memberikan yang terbaik. (*)
