JAKARTA – Kementerian Pertahanan Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan enam orang tewas dan 131 lainnya mengalami luka ringan hingga sedang akibat serangan yang berkaitan dengan konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Melalui akun resmi X, otoritas pertahanan Uni Emirat Arab menyebutkan korban tidak hanya berasal dari warga negaranya, tetapi juga warga dari berbagai negara, termasuk warga negara Indonesia (WNI).
“Serangan-serangan ini mengakibatkan enam korban jiwa warga negara UEA, Pakistan, Nepal, dan Bangladesh, serta 131 korban luka ringan hingga sedang dari berbagai negara,” tulis Kementerian Pertahanan UEA dalam pernyataannya, Kamis (12/3).
Dalam daftar korban luka tersebut tercatat warga dari sedikitnya 27 negara, antara lain UEA, Mesir, Sudan, Ethiopia, Filipina, Pakistan, Iran, India, Bangladesh, Sri Lanka, Azerbaijan, Yaman, Uganda, Eritrea, Lebanon, Afghanistan, Bahrain, Komoro, Turki, Irak, Nepal, Nigeria, Oman, Yordania, Palestina, Ghana, hingga Indonesia.
Mayoritas korban berasal dari negara-negara di kawasan Asia dan Afrika. Otoritas UEA juga menyebut tidak ada warga negara Amerika Serikat maupun negara-negara Eropa yang tercatat menjadi korban dalam serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah mereka.
Data korban tersebut diumumkan bersamaan dengan laporan kinerja sistem pertahanan udara UEA selama konflik di Timur Tengah berlangsung. Kementerian Pertahanan UEA menyatakan sistem pertahanan mereka berhasil mencegat ratusan serangan udara sejak perang pecah.
Sejak 13 hari serangan berlangsung, pertahanan udara UEA dilaporkan telah mencegat 268 rudal balistik, 15 rudal jelajah, serta 1.514 drone yang diarahkan ke wilayah negara tersebut.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran itu disebut mulai memanas sejak 28 Februari 2026. Di tengah eskalasi tersebut, Israel juga melancarkan operasi militer ke wilayah Lebanon.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah itu memicu kekhawatiran global, tidak hanya karena meningkatnya korban sipil, tetapi juga karena terganggunya distribusi energi dunia. Sejumlah kapal tanker dilaporkan tertahan di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
