TARAKAN – Tingginya biaya logistik domestik di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) membuat pelaku usaha memilih jalur ekspor melalui Malaysia. Pasalnya, ongkos distribusi antar wilayah di Indonesia di nilai tidak kompetitif sehingga lebih memilih pengiriman barang ke luar negeri dengan biaya lebih murah.
Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltara, Peter Setiawan mengungkapkan biaya pengiriman kontainer dari Tarakan menuju Surabaya bisa mencapai Rp100 juta. Sementara pengiriman langsung ke luar negeri hanya berkisar Rp40 juta hingga Rp50 juta.
“Ini yang menjadi persoalan utama. Kirim ke luar negeri sekitar Rp40 juta sampai Rp50 juta, tetapi ke Surabaya justru bisa sampai Rp100 juta,” kata Peter dalam kegiatan akselerasi ekspor komoditas unggulan di Tarakan, belum lama ini.
Peter mengungkapkan, disparitas ongkos logistik tersebut membuat pelaku usaha mengambil langkah pragmatis dengan mengirim komoditas melalui Tawau, Malaysia, sebelum diteruskan ke Kuala Lumpur dan negara tujuan ekspor lainnya.
“Kalau hitung-hitungan bisnis, tentu pengusaha akan memilih jalur yang lebih murah dan efisien,” ungkapnya.
Peter bilang, pola distribusi melalui Malaysia mulai banyak digunakan sejak beberapa tahun terakhir, terutama setelah adanya kebijakan larangan ekspor benih kepiting. Kondisi itu mendorong pengusaha membuka rantai distribusi baru melalui negara tetangga.
“Akibatnya, sejumlah komoditas asal Kaltara justru lebih dikenal melalui pasar Malaysia dibanding dari daerah asalnya sendiri,” tutur Peter.
“Komoditas kita akhirnya dikenal dari Tawau, padahal sumber produknya dari Kaltara,” sambung dia.
Ia menegaskan, kondisi itu berdampak pada belum optimalnya potensi ekonomi daerah. Selain mengurangi peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), belum adanya jalur ekspor langsung yang kuat juga dinilai menghambat masuknya investasi.
Menurut Peter, persoalan logistik di Kalimantan Utara tidak hanya soal biaya tinggi, tetapi juga dipengaruhi keterbatasan armada kapal, minimnya rute pelayaran, serta volume muatan yang belum stabil.
“Kalau ekspor langsung dari Tarakan bisa berjalan optimal, rantai distribusi lebih pendek dan investor tentu akan lebih tertarik masuk,” ucapnya.
Ia menambahkan, saat ini komoditas unggulan Kaltara seperti hasil perikanan, termasuk udang dan ikan, masih dipasarkan ke sejumlah negara tujuan ekspor, antara lain Eropa dan Amerika Serikat.
“Apindo mendorong pemerintah memperkuat konektivitas logistik dan mobilitas barang dari wilayah perbatasan agar daya saing produk lokal meningkat. Kalau daerah ini ingin maju, arus barang dan mobilitas orang harus berjalan seimbang,” pungkasnya.(*)
