JAKARTA – Implementasi program mandatori Biodiesel B50 mendorong PTPN IV PalmCo mempercepat berbagai upaya peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat. Langkah itu ditempuh melalui penguatan riset, inovasi teknologi, kemitraan petani, hingga program peremajaan sawit guna memastikan ketersediaan bahan baku minyak sawit nasional untuk kebutuhan energi dan pangan.
Komitmen itu ditegaskan saat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, mengunjungi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Adolina PTPN IV Regional 2 di Serdang Bedagai, Sumatera Utara, didampingi Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisna Santosa, belum lama ini.
Heru menilai PalmCo memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan nasional. Menurutnya, keberhasilan implementasi B50 sangat bergantung pada meningkatnya produktivitas perkebunan sawit rakyat dan penguatan rantai pasok crude palm oil (CPO) di dalam negeri.
“Kami mengapresiasi peran PTPN IV PalmCo yang menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas sawit rakyat dapat berjalan seiring dengan penguatan ketahanan pangan dan dukungan terhadap program energi nasional,” ujar Heru.
Heru menegaskan, program Biodiesel B50 mewajibkan pencampuran 50 persen solar dengan 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak sawit.
“Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan CPO domestik sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Krisna Santosa mengungkapkan, hingga Juni 2026, PalmCo telah memproduksi sekitar 1,29 juta ton CPO.
“Selain memenuhi kebutuhan minyak goreng nasional, produksi tersebut juga diarahkan untuk menopang peningkatan permintaan bahan baku biodiesel,” ungkap Jatmiko.
Jatmiko bilang, di sisi kemitraan PalmCo terus memperbesar kontribusinya terhadap petani sawit. Sepanjang 2025 perusahaan menyerap 3,26 juta ton tandan buah segar (TBS) dari petani, sedangkan hingga pertengahan 2026 realisasinya telah mencapai 1,73 juta ton.
“Sekitar 30 persen bahan baku industri PalmCo kini berasal dari perkebunan rakyat, dengan pembinaan terhadap hampir 29 ribu keluarga petani di lahan lebih dari 54 ribu hektare,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan kebutuhan biodiesel harus menjadi momentum mempercepat transformasi sektor hulu sawit.
“Setiap peningkatan kebutuhan energi nasional harus mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani sawit rakyat,” tuturnya.
Ia menambahkan, perusahaan menjalankan empat strategi utama, yakni penerapan pola single management, penyediaan bibit unggul bersertifikat, penguatan kemitraan dengan petani swadaya sebagai offtaker, serta pemberdayaan koperasi petani agar memperoleh akses teknologi, pendampingan, dan kepastian pasar secara berkelanjutan.
“Selain itu, PalmCo juga menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam pengembangan riset energi berbasis sawit, termasuk proyek “Bensin Sawit”. Inovasi tersebut diharapkan memperkuat hilirisasi industri sawit nasional sekaligus mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” tutupnya.(*)
