SARAWAK – Kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Sarawak, Malaysia, semakin memburuk. Sebanyak 108 sekolah di Serian, Sarawak ditutup sementara setelah kualitas udara mencapai kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap yang disebut dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia.
Penutupan sekolah dilakukan setelah Indeks Pencemaran Udara (API) di Serian mencapai 202, sementara wilayah Tebedu mencatat angka lebih tinggi, yakni 212.
Berdasarkan klasifikasi API, angka 0–50 masuk kategori baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.
Sebagai langkah pencegahan terhadap dampak kesehatan, kegiatan belajar mengajar di sekolah yang ditutup dialihkan ke Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR).
Dikutip dari Bernama dan IG Undercover.id, Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN Sarawak) menyatakan kebijakan penutupan sekolah tersebut mengikuti ketentuan dalam Rencana Aksi Kabut Nasional. Berdasarkan aturan tersebut, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak di bawah yurisdiksi Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak harus ditutup ketika API mencapai 200.
“Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200,” kata JPBN Sarawak.
Meski kegiatan belajar dilakukan dari rumah, pemerintah setempat memastikan proses pendidikan tetap berjalan agar aktivitas belajar siswa tidak terhenti.
Kondisi udara buruk juga tidak hanya terjadi di Serian dan Tebedu. Pemerintah Sarawak mencatat sedikitnya 11 wilayah lain berada dalam kategori udara tidak sehat, yakni Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas.
Meluasnya wilayah terdampak menunjukkan kabut asap telah menyelimuti sejumlah kawasan di Sarawak. Kondisi kualitas udara tersebut dilaporkan terus memburuk sejak awal Agustus.
JPBN Sarawak mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk.
Imbauan terutama ditujukan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki masalah pernapasan atau jantung.
“Kelompok berisiko tinggi, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan masalah pernapasan atau jantung, harus membatasi paparan mereka terhadap udara yang tercemar,” pungkasnya.(*)







