APAU KAYAN — Kondisi ruas jalan di wilayah Apau Kayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), semakin memprihatinkan. Seperti yang terjadi di kilometer (Km) 13 dari Desa Agung di Kecamatan Sungai Boh menuju Desa Long Nawang, Kecamatan Kayan Hulu. Jalan yang menghubungkan beberapa kecamatan itu dilaporkan semakin parah dan sulit dilalui kendaraan roda empat.
Jalan berlumpur dan dipenuhi kubangan menyebabkan sejumlah kendaraan tertanam saat melintas. Para sopir angkutan dan travel yang menggunakan mobil dobel gardan (4WD) mengaku kesulitan membawa muatan maupun penumpang karena akses transportasi terganggu.
“Yang terakhir kemarin mobil saya tertanam, tapi sekarang lebih parah lagi,” ujar Suprianto, seorang sopir travel di Apau Kayan, Kamis (28/5/2026).
Suprianto mengatakan, Kerusakan jalan kini berdampak langsung terhadap biaya transportasi dan distribusi barang kebutuhan pokok di wilayah Apau Kayan.
“Tarif travel rute Sungai Boh–Long Nawang saat ini sudah naik menjadi Rp800 ribu per orang dari sebelumnya Rp600 ribu. Sementara tarif perjalanan Long Nawang menuju Long Bagun (Kaltim) naik dari Rp1,3 juta menjadi Rp1,5 juta per orang,” kata Suprianto.
Kenaikan juga terjadi pada ongkos pengiriman barang dan sembako. Biaya pengangkutan muatan dari Long Nawang menuju Long Bagun kini disebut mencapai Rp18 juta sekali jalan, naik dari sebelumnya sekitar Rp12 juta.
“Sekarang bisa tembus Rp18 juta dari Long Nawang ke Long Bagun, Dulu sekitar Rp12 juta karena akses jalannya belum separah sekarang,” kata Suprianto.
Ia menjelaskan, selain kondisi jalan yang rusak berat, kenaikan harga BBM juga disebut menjadi penyebab melonjaknya biaya operasional transportasi.
“Semua minyak sudah naik. Dari Malaysia tukaran naik, di Indonesia harga solar juga naik,” jelasnya.
Hal senada diungkapkan, Aprianus Gun warga setempat yang menyebut kondisi jalan saat ini sangat menyulitkan aktivitas masyarakat, terutama distribusi bahan kebutuhan pokok dan perjalanan antar wilayah di Apau Kayan.
“Waktu tempuh perjalanan kini semakin panjang. Jika sebelumnya jalur tersebut dapat ditempuh sekitar enam jam saat kondisi jalan masih baik, sekarang perjalanan (Desa Agung-long Nawang) bisa memakan waktu dua sampai tiga hari,” jelasnya.
Ia menilai penanganan jalan hingga kini belum maksimal termasuk juga mempertanyakan pemanfaatan alat-alat berat yang sebelumnya telah diberikan untuk perbaikan akses jalan di wilayah tersebut. Kondisi ini juga dikhawatirkan mengganggu mobilitas masyarakat menjelang pelaksanaan Konferensi Antar Jemaat GKII se-Apau Kayan yang direncanakan berlangsung di Desa Mahak, Sungai Boh pada Juni 2026 mendatang.
“Kami berharap pemerintah segera melakukan penanganan darurat agar akses transportasi di pedalaman Apau Kayan kembali normal dan distribusi kebutuhan masyarakat tidak semakin terhambat,” tutupnya.(*)
