ICCN Akan Menyelenggarakan Indonesia Culture Festival 2026

Indonesia Creative Cities Network (ICCN) akan mengadakan Indonesia Culture Festival (ICF) pada tanggal 8 hingga 10 Mei 2026 di Malang. ICF 2026 dihadirkan dengan perspektif inovatif dalam memahami kebudayaan. Melalui pendekatan Living Museum, festival ini menegaskan bahwa budaya bukan sekadar pertunjukan semata, melainkan sebuah sistem dinamis yang berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Malang. Rabu, (6/5/26).

Ketua Umum ICCN, Tb. Fiki Satari, menjelaskan bahwa ICCN menghadirkan ICF 2026 bukan hanya sebagai sebuah acara budaya biasa, melainkan sebagai ekosistem budaya yang hidup, berkembang, dan berkelanjutan.

“Festival ini dirancang sebagai living museum Indonesia, sebuah ruang di mana budaya tidak hanya dipamerkan, tetapi dihidupkan, dialami, dipelajari, dan diwariskan secara autentik. Di sini, tradisi bertemu inovasi. Budaya bertemu kreativitas. Komunitas bertemu kolaborasi,” ujarnya.

Fiki Satari menambahkan bahwa Indonesia Culture Festival akan menjadi wadah hidup bagi para seniman, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, generasi muda, serta masyarakat lintas daerah dan budaya. Festival ini bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan sebuah ekosistem yang mengintegrasikan budaya, lingkungan, ekonomi rakyat, teknologi, edukasi, dan placemaking dalam satu pengalaman kolektif.

Dengan pendekatan ekosistem tersebut, festival ini diharapkan mampu menghidupkan ruang dan identitas lokal, memperkuat jejaring budaya, membuka peluang ekonomi kreatif, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta membangun masa depan budaya Indonesia yang relevan secara global. Karena budaya bukan hanya warisan masa lalu; budaya adalah energi yang menggerakkan masa depan bangsa.

“Indonesia Culture Festival: A Living Museum of Indonesia. Bukan Sekadar Festival, Melainkan Ekosistem Budaya Indonesia,” tegasnya.

Di kawasan Boon Pring, budaya diwujudkan dalam praktik nyata, mulai dari pengelolaan sumber daya alam hingga pola relasi sosial masyarakat.

Ketua Yayasan Lintas Batas, Seto Hari Wibowo, menilai bahwa pendekatan ini sangat penting untuk mengubah paradigma publik.

“Selama ini, budaya sering dipandang sebatas sesuatu yang dipertunjukkan. Padahal, budaya berfungsi mengatur cara hidup, ekonomi, bahkan hubungan manusia dengan alam,” ungkapnya.

Deputi Ekosistem Kreatif ICCN, Zandri Aldrin, menekankan pentingnya membangun sebuah ekosistem, bukan sekadar menyelenggarakan event semata.

“Kami tidak hanya membuat festival sekali waktu. Kami sedang membangun sistem yang memungkinkan budaya menjadi sumber daya ekonomi yang berkelanjutan,” paparnya.

Project Leader sekaligus Direktur Aktivasi Kebudayaan & Pusaka ICCN, Muhammad Anwar, menegaskan bahwa budaya harus dipahami sebagai praktik hidup yang melekat.

“Budaya bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Ketika budaya dihidupkan, bukan sekadar dipertunjukkan, dampaknya akan terasa nyata baik secara sosial maupun ekonomi,” jelasnya.

ICF dirancang sebagai ruang aktivasi melalui rangkaian workshop, diskusi, dan cultural residency yang memperlihatkan bagaimana budaya beroperasi secara konkret. Forum Leader’s Talk dan berbagai sesi diskusi akan mengangkat isu-isu strategis seperti ekonomi kebudayaan, penjenamaan kota, dan penciptaan ruang sebagai bagian dari penguatan ekosistem.

ICF juga mendorong kolaborasi lintas sektor melalui fasilitasi business matching dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) guna memperluas jejaring dan sinergi.