BULUNGAN – Bagi sebagian petani di Desa Long Buang, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan, belajar bertani tidak lagi hanya dilakukan dari pengalaman turun-temurun.
Melalui Sekolah Lapangan Agrokompleks, mereka mulai mengenal cara baru mengolah lahan dan merawat tanaman.
Pengetahuan itu tidak berhenti di ruang pelatihan. Sejumlah peserta mulai membawa ilmu yang diperoleh ke lahan masing-masing dan mencoba menerapkannya secara langsung.
Kepala Desa Long Buang, Frans Dopit mengatakan, program itu telah berjalan dua kali dari total sekitar tujuh pertemuan yang direncanakan. Pelatihan menggunakan pola satu minggu kegiatan dan satu minggu jeda.
“Ini sudah berjalan dua putaran, dan minggu depan masuk ke pertemuan ketiga. Totalnya nanti ada kurang lebih tujuh kali pertemuan,” kata Frans.
Frans bilang, Sebanyak 30 peserta mengikuti program tahap pertama. Mereka merupakan perwakilan dari 10 desa di Kecamatan Peso, dengan masing-masing desa mengirimkan tiga peserta.
“Para peserta tidak hanya mendapatkan teori. Mereka diajak langsung mengolah lahan, mulai dari membuat bedengan menggunakan hand tractor, menyemai bibit, menanam, melakukan pemupukan hingga merawat tanaman,” ujarnya.
Dijelaskannya, proses belajar itu mendapat pendampingan dari tim akademisi IPB University. Program juga melibatkan mahasiswa Universitas Kaltara, generasi muda dan jajaran dinas terkait.
“Bagi masyarakat Desa Long Buang, kehadiran pendamping dan akademisi menjadi kesempatan untuk mengenal teknik pertanian yang sebelumnya belum banyak mereka terapkan,” tuturnya.
Frans mengungkapkan, antusiasme warga cukup tinggi. Bahkan, sebagian peserta langsung mencoba pengetahuan yang didapat setelah kembali ke lahan masing-masing.
“Manfaatnya sangat luar biasa bagi masyarakat, khususnya warga Desa Long Buang. Bahkan setelah menerima materi, sudah ada warga yang langsung menerapkannya di lahan masing-masing,” ungkapnya.
Dijelaskannya, program Sekolah Lapangan Agrokompleks merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bulungan melalui Dinas Pertanian bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Frans berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah rangkaian pelatihan selesai. Menurut dia, pendampingan dan pembelajaran seperti ini penting agar masyarakat semakin percaya diri mengembangkan pertanian di desanya.
“Kami berharap program seperti ini bisa terus dikembangkan dan menjangkau masyarakat lebih luas,” tutupnya.
Dari sebuah pelatihan sederhana di Desa Long Buang, masyarakat kini mulai membawa pengetahuan baru itu ke lahan mereka sendiri. Bagi para petani, perubahan tersebut menjadi langkah kecil untuk membangun cara bertani yang lebih baik sekaligus membuka peluang meningkatkan kehidupan ekonomi keluarga.(*)
