TANJUNG SELOR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan merilis prediksi musim kemarau 2026 untuk Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara)
Berdasarkan hasil analisis iklim terbaru, sebagian besar wilayah Kaltara diperkirakan tetap mengalami pola hujan tinggi sepanjang tahun, sementara musim kemarau hanya terdeteksi di sejumlah wilayah tertentu.
Forecaster BMKG, Zenia, menjelaskan karakteristik iklim Kalimantan Utara memang berbeda dibanding sejumlah wilayah lain di Indonesia yang memiliki pola musim kemarau dan hujan lebih tegas.
“Sebagian besar wilayah Kalimantan Utara memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun atau tipe satu musim. Karena itu, musim kemarau pada 2026 hanya teridentifikasi di beberapa zona musim tertentu,” ujar Zenia.
Ia juga menyampaikan paparan BMKG April 2026, awal musim kemarau di Kaltara diprediksi hanya terjadi di tiga wilayah, yakni Tanjung Palas Timur pada Juni dasarian II, serta Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik yang tercatat telah memasuki musim kemarau sejak Januari dasarian II. Kondisi ini menunjukkan karakteristik iklim Kaltara yang didominasi tipe satu musim dengan curah hujan relatif merata sepanjang tahun.
*BMKG mencatat awal musim kemarau 2026 di sejumlah wilayah tersebut lebih cepat dibanding kondisi normal. Pulau Nunukan dan Sebatik diprediksi maju tiga dasarian, sedangkan Tanjung Palas Timur maju hingga lima dasarian dari pola klimatologis biasanya,” jelasnya.
“Secara umum, sifat musim kemarau di Provinsi Kalimantan Utara diprediksi normal. Namun, wilayah Pulau Nunukan, Sebatik, dan Tanjung Palas Timur diperkirakan mengalami sifat hujan bawah normal,” sambung dia.
Adapun puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026. Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan diperkirakan mencapai puncak musim kering pada Juli, sementara Kabupaten Malinau dan Nunukan pada Agustus.
Durasi musim kemarau di Tanjung Palas Timur diprediksi berlangsung selama 7–9 dasarian, sedangkan Pulau Sebatik dan Nunukan mencapai 10–12 dasarian. Wilayah lainnya diperkirakan tetap mengalami hujan sepanjang tahun.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, Haris Zulkarnaen, mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat memasuki semester kedua 2026.
“Meski pada Mei hingga Juni sebagian besar wilayah Kaltara masih berada pada kategori rendah, masyarakat dan pemerintah daerah tetap perlu meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi karhutla yang diprediksi meningkat pada Juli hingga September,” kata Haris.
Ia menambahkan, pada Juli, beberapa wilayah di bagian selatan Kabupaten Malinau dan Bulungan diprediksi memiliki potensi karhutla kategori menengah. Risiko meningkat pada Agustus dan September, terutama di Kecamatan Tanjung Palas Timur yang berpotensi tinggi mengalami karhutla, disertai wilayah tengah dan barat Kabupaten Bulungan serta bagian selatan Malinau dengan kategori menengah.
“BMKG merekomendasikan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan memasuki periode musim kering melalui langkah preventif, seperti pembasahan lahan terutama area gambut, penguatan patroli, serta pemantauan hotspot secara berkala,” tutupnya.(*)
