Jalan dan Jembatan di  Krayan Selatan Rusak Parah, Akibat Bencana Banjir

KRAYAN – Tingginya intensitas hujan di  Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) membuat wilayah  perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut dilanda banjir.

Sejumlah akses jalan dan jembatan penghubung utama antar desa di Kecamatan itu terputus.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan, Arief Budiman mengungkapkan, banjir juga membuat akses penghubung wilayah Kecamatan Krayan Selatan  dengan Kecamatan Krayan Tengah juga terputus.

“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan telah menetapkan status tanggap darurat bencana alam banjir di Kecamatan Krayan Selatan, sesuai surat keputusan (SK) Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid per tanggal 18 Januari 2025,” ungkap Arief, Senin.

“Masa tanggap darurat bencana ditetapkan selama 30 hari terhitung sejak tanggal 18 Januari 2025 sampai dengan 16 Februari 2025,” sambung dia.

Ia mengungkapkan, pembangunan jembatan alternatif jadi prioritas  penanganan dampak bencana alam tersebut.

“Akan dibangun jembatan alternatif di sekitar lokasi yang terdampak banjir, anggarannya menggunakan  anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dari BPKAD  Nunukan sesuai kewenangannya,” kata Arief.

Selama masa tanggap darurat bencana ini, BPBD Nunukan dan bersama OPD  serta TNI/POLRI akan terus berkoordinasi dalam menangani bencana ini.

“Ruas jalan dan sejumlah sarana jembatan yang rusak ini kewenangan Pemerintah Provinsi, BPBD Nunukan akan berkoordinasi lebih lanjut dengan dinas terkait di Pempov Kaltara,” jelasnya.

Rusaknya sejumlah akses jalan dan jembatan di Krayan Selatan itu dibenarkan anggota  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nunukan asal Krayan, Riyan Antoni.

“Ada satu jembatan yang terputus akibat air anak sungai meluap , seperti yang viral di medsos (media sosial) yakni jembatan yang digunakan pelajar dan guru SMAN 1 di Krayan Selatan. Sudah ditangani, tapi sifatnya darurat,” ujar Riyan.

Ironisnya, hujan deras disertai banjir yang sering melanda daerah tersebut membuat kondisi jembatan terancam rusak parah.

“Setiap kali hujan deras, jembatan-jembatan ini terancam rusak parah. Apalagi, banyak jembatan yang dibuat tidak permanen atau seadanya,” bilang Riyan.

Dijelaskannya, sebagian besar jembatan di wilayah Krayan dibangun oleh pihak swasta bersifat darurat dengan konstruksi jembatan seadanya.

“Di Krayan masih banyak jembatan anak sungai yang belum permanen sehingga rawan kecelakaan saat dilintasi. Sebagian besar gunakan kayu bulat dan insidentil,” jelasnya.

Ditegaskannya, kerusakan sejumlah jembatan di Krayan ini harus ditangani serius oleh pemerintah. Pembangunannya pun harus gunakan material yang lebih tahan lama dan aman.

“Sebagian besar akses  jalan dan jembatan ini menjadi kewenangan Pemprov Kaltara, Pemkab Nunukan untuk diharap segera mengambil tindakan perbaikan dan peningkatan infrastruktur serta berkoordinasi dengan pemprov,” tutupnya.(*)